Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Tuesday, April 10, 2012

Pengendalian Sosial (Control Social)


Pengertian Pengendalian Sosial (Social Control)
Merupakan alat atau cara yang digunakan masyarakat secara komprehensif untuk mengatur perilaku anggotanya agar sesuai dengan aturan, nilai, dan norma sosial.
Ciri Pengendalian sosial
a.       Dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja
b.      Bertujuan untuk mencapai stabilitas
Lembaga Pengendalian Sosial
a.       Lembaga Keluarga
Keluarga memiliki intensitas tinggi untuk mengawasi setiap perilaku anak sehingga dapat mencegah terjadinya perilaku menyimpang.
b.      Lembaga agama
Lembaga agama memberikan pedoman kepada setiap individu untuk bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Nilai agama memiliki sanksi mutlak yang dapat mengendalikan seluruh perilaku masyarakat.
c.       Lembaga Penddikan
Lembaga pendidikan menjadi salah satu alat untuk melaksanakan proses pengendalian sosial di lingkungan sekolah. Lembaga pendidikan akan mengawasi seluruh aktivitas siswa di lingkungan sekolah melalui peraturan yang diterapkan.
d.      Lembaga adat
Lembaga adat menjadi alat pengendalian sosial pada masyarakat tradisional. Lembaga adat memuat nilai dan norma adat istiadat masyarakat setempat agar dapat mengatur seluruh perilaku masyarakat.
e.       Lembaga kepolisian
Lembaga kepolisian bertugas mengendalikan perilaku warga masyarakat agar dapat memelihara dan mewujudkan ketertiban dan keamanan.
f.       Lembaga Pengadilan
Lembaga pengadilan merupakan lembaga Negara yang bertugas menyelidiki, mengusut, dan menjatuhkan hukuman kepada warga masyarakat yang melanggar hokum.
g.      Lembaga Media Massa
Lembaga media massa berperan sebagai alat pengendalian sosial dengan cara mengawasi seluruh kegiatan masyarakat dan pemerintah melalui sajian informasi. Tujuannya agar public dapat menilai serta melakukan pengawasan secara lebih lanjut.
Cara Pengendalian sosial
Secara umum
a.       Pengendalian sosial formal
Sifatnya resmi/formal. Bisa melalui lembaga pendidikan dan hokum.
b.      Pengendalian sosial non formal
Sifatnya non formal biasanya dilakukan pada masyarakat tradisional yaitu dengan cara desas desus, pengucilan, celaan dan ejekan.
Sifat, Proses dan Fungsi Pengendalian Sosial
a.       Sifat Pengendalian sosial
1.  Preventif  : Pengendalian sosial dilakukan dengan cara mencegah adanya gangguan dalam keserasian
2.  Represif : artinya pengendalian sosial untuk mengembalikan keserasian akibat pelanggaran nilai dan norma.
b.      Proses
1.      Persuasif : Pengendalian sosial dengan cara mengajak atau membimbing. Dilakukan tanpa kekerasan.
2.      Koersif : Pengendalian sosial dilakukan dengan cara kekerasan /paksaan. Pengendalian dengan kekerasan bisa dilakukan dengan dua cara yaitu Kompulsi (compulsion) yaitu pemaksaan terhadap seseorang agar taat dan patuh terhadap norma-norma sosial yang berlaku, kemudian Pervasi (pervasion)  yaitu penanaman norma-norma yang dilakukan secara berulang-ulang  agar norma tersebut merasuk ke dalam kesadaran seseorang.
c.       Fungsi
1.      Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosial
2.      Memberikan imbalan bagi warga masyarakat yang menaati nilai dan norma
3.      Mengembangkan rasa takut dalam diri individu jika melakukan kesalahan (pelanggaran) terhadap nilai dan norma.
4.      Mengembangkan rasa malu dalam diri individu
5.      Menciptakan sistem hukum untuk mengatur hubungan masyarakat.

Tidak Berfungsinya Lembaga Sosial
a.       Penyebab tidak berfungsinya lembaga pengendalian sosial
1.      Tidak adanya aturan hukum yang memadai
2.      Ditinggalkannya pengendalian sosial informal
3.      Adanya tindak penyalahgunaan wewenang untuk melindungi pihak yang bersalah
b.      Akibat tidak berfungsinya lembaga pengendalian sosial.
1.      Terganggunya keseimbangan sosial
2.      Pudarnnya nilai dan norma
3.      Maraknya tindak kejahatan dan kekerasan
4.      Krisis sosial dan integrasi sosial

Saturday, July 2, 2011

Do you know, what is sociology?


Apakah itu sosiologi? 

Istilah sosiologi berasal dari kata socious dan logos. Socious (bahasa latin) berarti kawan dan logos (bahasa yunani) berarti kata atau berbicara. Dengan demikian, ilmu sosiologi berarti ilmu yang berbicara mengenai masyarakat.
Apakah itu objek sosiologi?
 Objek sosiologi ada 4 : Objek material (kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri, Objek Formal ( Ditekankan sebagai makhluk sosial atau masyarakat), Objek budaya, dan Objek agama.

Apa saja pokok-pokok bahasan sosiologi?
 Pokok-pokok bahasan sosiologi adalah : Fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis, dan realita sosial.

Seperti apa metode-metode sosiologi?
Sosiologi mengenal dua macam metode ilmiah, yakni metode kualitatif dan kuantitatif.

Bagaimana sejarah perkembangan sosiologi?
Pertama kali berkembang di Eropa pada abad ke 19 saat terjadi revolusi Industri. Di Indonesia Sosiologi mengalami perkembangan signifikan setelah proklamasi kemerdekaan 1945. Soenario Kolopaking yang pertama kali memberikan kuliah sosiologi dalam bahasa Indonesia pada tahun 1948 di Akademi Ilmu Politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM).

Bagaimana kedudukan sosiologi di antara ilmu-ilmu lain?
Sosiologi sangat berkaitan dengan ilmu-ilmu lainnya. Seperti berkaitan dengan ilmu politik, ekonomi, sejarah, antropologi, dan juga ilmu-ilmu pasti. Materi bahasan dari setiap ilmu yang saling berkaitan dan saling menunjang.

Apakah ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan?
Ciri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut :
a. Sosiologi bersifat empiris (Kajian berdasarkan observasi) 
b. Sosiologi bersifat teoritis (Disususn secara logis dari hasil observasi)
c. Sosiologi bersifat kumulatif (Teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori sebelumnya.
d. Sosiologi bersifat non-etis (Dilakukan bukan untuk mencari baik-buruknya suatu fakta).

Bagaimana kegunaan sosiologi di dalam masyarakat?
Kegunaan sosiologi bagi masyarakat adalah sebagai berikut :
a. Untuk pembangunan. Sosiologi berguna memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan pelaksanaan maupun penilaian pembangunan.
b. Untuk penelitian. Dengan penelitian dan penyelidikan sosiologis, akan diperoleh suatu perencanaan atau pemecahan masalah sosial yang baik.

Siapa tokoh yang pertama menciptakan istilah sosiologi dan yang juga disebut sebagai bapak sosiologi?
Tokoh yang pertama menciptakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte. Ia disebut bapak sosiologi.

Tokoh yang pertama kali mengembangkan metodologi sosiologi adalah?
 Tokoh yang pertama kali mengembangkan metode sosiologi yaitu : Emile Durkheim.

Berfikir mendalam tentang manusia dan masyarakat (Studi philosophy of social science)


  1. Masyarakat Sebagai Proses Interaksi
Ada perbedaan antara mekanisisme dan organisisme. Perbedaan tersebut sama dengan prinsip yang dipegang oleh sosiolog-sosiolog yang menggumuli masalah hubungan individu-masyarakat. Prinsip pertama sama dengan organisme yang mengakui pentingnya masyarakat, sedang prinsip kedua adalah sama dengan mekanisisme yang mengakui pentingnya individu. Keindividuan dan kemasyarakatan merupakan dua aspek kehidupan manusia yang satu dan sama dan tidak dibenarkan untuk diceraikan satu sama lain.
Ada banyak para ahli Sosiologi yang akan berusaha merumuskan dan menerapkan kedua prinsip tadi yaitu :

a.     George Simmel (1858-1918)
Lahir di Kota Berlin sebagai keturunan Yahudi. Tahun 1881 memperoleh gelar doctor cum laude di bidang filsafat. Simmel menjauhkan diri dari organisisme dan mekanisisme. Dalam penjelasannya atas pernyataan inim Simmel telah member pengertian dasar kepada ilmu sosial modern.
Pertama, masyarakat terdiri dari jaringan relasi-relasi orang yang menjadikan mereka bersatu. Masyarakat bukan badan fisik, juga bukan bayangan saja di kepala orang, melainkan sejumlah pola perilaku yang disepakati dan ditunjang bersama. Kedua, relasi-relasi aktif antara orang yang berkelompok atau bermasyarakat, tidak semua sama sifatnya. Relasi tersebut bisa mengarah kepada terbentuknya community (Gemeinschaft, paguyuban) atau kepada association (Gesselschaft, patembayan). Simmel juga sependapat dengan Ferdinand Toennies bahwa di zaman sekarang ada kecenderungan menggantikan pola relasi yang bersifat afektif dan personal (Gemeinschaft) dengan pola yang lebih bersifat fungsional dan rasional.
Ketiga, kesatuan-kesatuan sosial tidak hanya terbentuk dari relasi-relasi integrative dan harmonis. Demi tercapainya suatu strukturisasi sosial yang sehat, maka kritik, oposisi, persaingan, dan sikap iri hati sama diperlakukan seperti kesesuaian paham, partisipasi dan persahabatan. Keempat, tidak semua kesatuan sosial mempunyai lama waktu dan intensitas yang sama.
Simmel juga melihat terhadap Sosiologi formalitas. Kajian sosiologi yang khas yang membedakan terhadap apa yang dipelajari oleh ilmu lain adalah pada bentuk interaksi seperti : superordinasi (relasi atasan dengan bawahan), subordinasi (relasi bawahan dengan atasan), kerukunan, persaingan, perwakilan, kepartaian, relasi defensif (bela diri), persahabatan, irihati, dengki, ramah-tamah, dan relasi yang bersifat memikat (koketeri). Bentuk lain adalah relasi dua orang (pasangan), tiga orang dan lainnya.
b.                Thorstein Veblen (1857-1929)
Lahir di Negara bagian Wiscounsin di Amerika Serikat, sebagai keturunan Norwegia. Veblen mengembangkan konsepsi dinamis tentang manusia dan masyarakat. Veblen membenarkan bahwa dalam diri manusia ada “naluri-naluri” yang berpengaruh terhadap kelakuan manusia, tetapi tidak menentukan kelakuan itu. Naluri hanya membentuk suatu predisposisi dan menggairahkan manusia agar memikirkan dan mengusahakan tujuan-tujuan tertentu. Meskipun pada dasarnya manusia bebas untuk menentukan isi hidupnya, namun umunya ia bertindak karena rutin saja atau kebiasaan (habit). Bertalian dengan itu Veblen menyebut Pranata sebagai : “pola-pola perilaku yang telah diciptakan, disepakati, dan kemudian diwajibkan oleh masyarakat”.
Veblen pada akhirnya membedakan dua tipe masyarakat yang mungkin terbentuk oleh manusia. Ada dua kemungkinan spekulatif :
-       Dalam tahap pertama anggota masyarakat masih dirangsang oleh naluri untuk bersikap baik terhadap kaum kerabat dan sesama. Masyarakat suka kerja sama.
-       Dalam tipe masyarakat yang kedua orang dirangsang oleh predatory instinct. Kerja produktif diganti dengan gaya hidup komsumtif.
Veblen mempunyai pendapat amat negatif mengenai masyarakat modern, yang menonjolkan nalui agresif manusia. Menurut Veblen, prinsip agresi berperan di dunia olahraga juga. Mereka yang paling kuat, galak, pintar, dan mampu memperdayakan lawan, menang.
c.                 Charles Horton Cooley (1864-1929)
Dilahirkan di kota Ann Arbor.  Cooley membahas mengenai masyarakat dan individu. Ditegaskan oleh Cooley, bahwa masyarakat dan individu bukan dua realitas yang berdiri terpisah, melainkan dua sisi atau segi dari realitas yang satu dan sama. Keduanya adalah bagaikan kedua sisi keeping uang, yang tidak mungkin terpisahkan. Dengan menekankan kesatuan Cooley menjauhkan diri dari pandangan sosial atau Solidarisme Klasik. Jadi individu-individu harus solider dan saling membantu. Cooley juga menguraikan dalam bukunya “Human Nature and The Social Order” Cooley menguraikan dengan panjang lebar beberapa istilah misalnya kemauan sendiri dan peraturan masyarakat. Cooley menyimpulkan antara kedua istilah tersebut tidak ada antitesa tapi merupakan penyusunan unsur-unsur sosial yang sudah ada sebelumnya.
Cooley amat menekankan aspek batiniah, yaitu consensus atau keseuaian paham dengan kata-kata “alam pikiran bersifat sosial” (mind is social) dan “masyarakat bercirikan mental” (society of mind). Namun hal tersebut dikritik.
Individu dan masyarakat merupakan kesatuan yang erat. Kedua-duanya tidak terpisahkan! Inilah sumbangan besar Cooley bagi perkembangan Sosiologi. Namun demikian, ajarannya mempunyai kekurangan juga. Manusia didefinisikan olehnya atas cara yang terlalu berat sebelah. Seolah-olah manusia hanya alam pikiran saja, padahal ia adalah badannya juga. Ketubuhannya termasuk hakikatnya. Selain keyakinan dan motivasi masih harus ada hal-hal lain yang menjamin kehidupan sebagai masyarakat. Hal-hal yang diperlukan juga ialah control sosial, kepemimpinan, tata tertib, system imbalan dan hukuman,serta struktur-struktur lahiriah yang seolah-olah dari luar memaksa orang.
d.                William Graham Sumner (1840-1910)
Sarjana Sosiologi, lahir di kota Patterson N.J, Amerika Serikat. William melihat tentang masyarakat adalah kerja sama antagonistis, serta melihat tentang kelompok dalam (ingroup) dan kelompok luar (outgroup). Masyarakat adalah kerja sama antagonistis atau kerjasama antara pihak-pihak yang bertentangan.Individu-individu yang masing-masing didorong oleh kepentingan sendiri, menjadi satu oleh karena mereka menyesuaikan diri dengan bentuk-bentuk kerja sama yang di sepakati. Bentuk-bentuk itu menyangkut bidang-bidang ekonomi, komunikasi, prokreasi (perkawinan dan keluarga), pendidikan, pertahanan, hubungan, agama, dan lain-lain.
Sehubungan dengan peranan folkways dalam kehiduoan bersama, Sumner membedakan antara ingroups atau outgroups atau theygroups. Ia telah melihat bahwa orang selalu mempertentangkan kelompoknya sendiri terhadap kelompok-kelompok lain. Tiap-tiap kelompok membanggakan diri sendiri, menjunjung tinggi simbolnya, merasa diri lebih baik berkenaan dengan folkways dan cenderung meremehkan orang luar.Tiap-tiap kelompok berkeyakinan bahwa peraturannya, tata tertibnya, dan ajarannya adalah yang paling baik. Istilah etnosentrisme berasal dari Sumner. Sumner mengemukakan bahwa terdapat korelasi antara etnosentrisme dengan solidaritas group.
e.                 Ferdinand Toennis (1855-1036)
Lahir di Schleswig, Jerman Timur. Masyarakat menurutnya adalah usaha manusia untuk mengadakan dan memelihara relasi-relasi timbal-balik yang mantap. Kemauan manusia mendasari masyarakat. Berkenaan dengan kemauan itu Toennies membedakan antara masyarakat yaitu Zweckwille yaitu kemauan rasional yang hendak mencapai suatu tujuan dan Triebwille yaitu dorongan batin berupa perasaan. Menurut pengkritik, hal tersebut benar untuk sebagian. Lagi pula perlu kita katakan bahwa manusia tidak hanya membentuk suatu tipe kehidupan bersama, melainkan ia dibentuk juga oleh kehidupan bersama serta kebudayaannya.
Dua tipe masyarakat menurut Ferdinand Toennies adalah Gemeinschaft (paguyuban, persekutuan hidup) atau bentuk hidup bersama yang lebih bersesuaian dengan “Triebwille”. Kebersamaan dan kerja sama tidak diadakan untuk mencapai suatu tujuan di luar, melainkan dihayati sebagai tujuan dalam dirinya. Orangnya merasa dekat satu sama lain dan memperoleh kepuasan karenanya. Orang memiliki jaringan relasi-relasi kekeluargaan karena lahir. Sedangkan Gesselschaft itu tipe asosiasi di mana relasi-relasi kebersamaan dan kebersatuan antara orang berasal dari faktor-faktor lahiriah, seperti persetujuan, peraturan, undang-undang, dan sebagainya.
  1. Manusia Serba Dua
Di dalam pembahasan ini, ada pembicaraan mengenai dua sosiolog besar yaitu Emile Durkheim dan Max Weber. Emile Durkheim lewat karyanya Le dualism de la nature humaine et ses conditions socials (Sifat serba dua kodrat manusia dan kondisi-kondisi sosial). Ia menyatakan dengan tegas bahwa  masyarakat dan individu tidak merupakan dua wilayah yang terpisah dan berlainan. Dualisme merupakan gejala universal, dan kita tidak boleh meremehkannya. Manusia menghadapi dua kenyataan. Dalam alam penginderaan dan kenafsuan manusia mengalami diri sebagai individu, dalam alam pengertian umum dan moralitas ia menghadapi suatu realitas yang supraindividual. Pengalaman manusia itu yang disebut homo duplex, yaitu manusia serba dua atau manusia berganda. Durkeim juga melihat bahwa individu tidak dipisahkan dari luar oleh masyarakat itu. Dalam diri manusia pengaruh orang lain dan predisposisi individual bertemu dan menjadi satu. Sifat serba dua hidup manusia berdasarkan kedua aspek dari hidupnya yang satu, yaitu aspek sosial dan aspek individual. Dari kedua aspek tersebut faktor pengaruh masyarakat adalah faktor yang paling penting dalam Sosiologi Durkheim.
·      Emile Durkheim
Emile Durkheim lahir pada tanggal 15 April 1858 di desa Epinal, Perancis. Pada masanya terjadi revolusi perancis dan di bidang ekonomi terjadi krisis beberapa kali, yang menyebabkan kemiskinan, pengangguran, dan bunuh diri. Dengan latar belakang ini, kita dapat mengerti apa sebabnya faktor-faktor sosial dianggap paling penting oleh Durkeim. Dua prinsip menuntun Durkheim dalam mengembangkan sosiologinya. Pertama sosiologi harus bersifat ilmiah, kedua keterangan yang diharapkan dari sosiologi harus bersifat khas sosiologis. Dalam bukunya Suicide, yang bermaksud menerangkan hal bunuh diri sebagai gejala sosial. Realitas sosial disebut sebagai realitas sui generis.
Untuk membuktikan adanya kesadaran kolektif, Durkheim mengemukakan tiga argumentasi : Pertama, ada kejadian-kejadian di mana orang bertindak atas cara yang sebenarnya tidak sesuai dengan pikiran individual mereka. Kedua, kesadaran kolektif yang berlainan dari kesadaran individual terlihat pula dari tingkah laku grup, yang berlainan dari tingkah laku individu yang sendirian. Ketiga, menurut angka statistic prosentase gejala sosial mesti ada faktor lain lagi disamping kemauan individual yaitu faktor kesadaran kolektif.
Evaluasi pendapat Durkheim adalah tidak boleh dikatakan bahwa masyarakat memperalat individu. Kemudian untuk masalah bunuh diri ada kaitannya dengan tiga faktor yaitu predisposisi psikologis tertentu, faktor keturunan, dan kecendurungan manusia untuk meniru orang lain. Lalu ia merumkan tiga tipe bunuh diri : bunuh diri egoistis (karena tidak mampu berintegrasi dengan kelompok di luar dirinya), bunuh diri altruistis (bunuh diri karena terikat oleh integrasi kelompoknya), dan bunuh diri anomis (kehilangan pegangan hidup).
Durkheim kemudian melihat agama sebagai fakta sosial sepeti totemisme yang merupakan kepercayaan bahwa seluruh alam semesta dipenuhi oleh kekuasaan atau daya gaib yang luput dari setiap pengamatan. Tata profane merangkum semuanya yang berkenaan dengan pencarian nafkah sehari-hari, sedangkan tata sacral semuanya yang berhubungan dengan totem seperti pemujaan, ibadah dan upacara. Durkheim berfikir bahwa yang sebenarnya dialami, disembah, ditakuti, dan ditaati manusia itu adalah totem yang sebenarnya adalah masyarakat itu sendiri.
Kritik dari Raymond adalah : Pertama, hidup bermasyarakat selalu diadakan oleh individu-individu kongkret yang serba terbatas. Kedua,  Durkheim sama sekali tidak dapat menerima sifat transedental agama. Agama tidak bisa disamakan dengan lembaga kemasyarakatan lain karena agama adalah institusi yang khusus. Evaluasi selanjutnya adalah bahwa hidup masyarakat harus seimbang dimana manusialah yang sadar membentuk masyarakatnya. Kendati demikian, masyarakat tetap dimengerti olehnya sebagai suatu realitas.
·      Max Weber (1864-1920)
Max Weber berpandangan bahwa manusia digairahkan dan digerakan dari dalam batinnya, yaitu oleh keyakinanya. Sosiologi harus mempelajari perilaku sosial sejauh dimaksudkan dan dihayati oleh individu. Dalam sosiologi, manusialah makhluk yang terutama dan terhormat, sebab bukan pranata atau struktur sosial, melainkan si pelaku sendiri yang sadar dan bertanggung jawab menjadi objek ilmu manusia.
Sebetulnya Durkheim dan Weber telah mengetahui hal itu. Perbedaan antara mereka adalah bahwa Durkheim mengarahkan perhatiannya kepada hasil proses ini, yaitu pranata sekalipun ia tidak melupakan komponen individual. Sedangkan Weber lebih menyoroti prose situ sendiri yang berlangsung dalam individu-individu. Weber dan Durkheim berada di jalan yang sama sekalipun tidak berada di tempat yang sama. Mereka dijembatani oleh karya Sumner. Konsep folkways memperlihatkan bahwa perilaku individu dan pranata kolektif adalah satu.
  1. Kedwitunggalan Manusia
Menurut Robert W.Friedrich dalam bukunya A Sociology of Sociology. Sosiologi yang perkembangannya telah menjadi korban hasratnya untuk menjadi sains yang positivistis. Pembahasan pertama dalam hal ini adalah : Ilmu pengetahuan positivistis dan pengandaian-pengandaiannya. Bangunan ilmu pengetahuan didirikan atas dasar beberapa pengandaian-pengandaian yang dirumuskan sebagai hukum-hukum. Hukum Pertama, pengetahuan ilmiah harus obyektif. Hukum Kedua, bahwa ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulangkali terjadi. Hukum Ketiga, ilmu pengetahuan positif menyoroti alam dari segi kesalingtergantungannya dan antar hubungan unsure-unsurnya.
Akibat negatif pemakaian metode ilmu alam dalam sosiologi : 1. Manusia menjadi objek, 2. Hanya tingkah laku yang berulang-ulang dan selalu sama, 3. Kehidupan sosial menjadi sistem.
Beberapa kesimpulan dari materi ini adalah sebagai berikut :
1)      Gambaran dunia yang obyektivitas, di mana dunia berhadapan dengan manusia dan mengenakan diri pada kesadarannya, dan gambaran dunia menurut model fisika, pada akhirnya menghasilkan suatu determinisme kolektif. Gambaran ini yang dipakai oleh organisisme, evolusionisme, dan materialism historis, melucuti individu dari martabatnya.
2)      Gambaran dunia yang subyektivitas, di mana manusia individual berhadapan dengan dunia dan mengenakan pengertiannya dan konstruksinya kepadanya, mencopot dunia dan masyarakat dari wewenangnya dan perananya.
3)      Kedua gambaran dunia, sosiologi harus bebas-nilai dan obyektif melulu. Sosiologinya yang disebut human science, dikosongkan dari unsure-unsurnya yang paling manusiawi.
4)      Kita harus memandang individu dan masyarakat sebagai kedwitunggalan. Keterjalinan individu dan masyarakat dirumuskan dengan tepat oleh filsuf Karl Jaspers dari Jerman, yaitu : Es gibt kein weltloses Ich und keine ichlose welt (tidak ada aku tanpa dunia, dan tidak ada dunia tanpa aku).
5)      Perspektif-perspektif lain yang khusus, yang bersifat ilmiah, filsafati, religious, merupakan perspektif-perspektif buatan (artifisial), dan dimaksudkan untuk mencari pengenalan yang lebih baik dan teratur. Mereka tidak boleh mencerai beraikan kesatuan asli dan menjadi independen, berdiri sendiri, dan otonom, melainkan harus tetap terjalin satu sama lain, sebab landasan bersama semua perspektif khusus adalah pengalaman dan sikap asli manusia alami.
6)      Konsekuensi dari semua itu ialah :
a)      Bahwa teori sosial yang mendasari semua teori aspectual, tidak pernah boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa ada hubungan timbale-balik antara individu dan masyarakat.
b)      Bahwa si sosiolog tidak pernah dapat menganggap diri dibebaskan dari dorongannya untuk menilai, memutuskan, dan bertanggung jawab. Perspektif sosiologis yang bersifat artificial, tidak dapat dipisahkan dari orientasinya yang alamiah.

Tuesday, June 14, 2011

Memilih Model Pembelajaran

Dalam kegiatan blajar mengajar, guru hendaknya mampu menggunakan model pembelajaran. Hal tersebut digunakan agar siswanya termotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Jumlah model pembelajaran sangatlah banyak, oleh karena itu guru hendaknya mampu memilih model pemblajaran yang paling cocok untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Untuk memilih model pembelajaran perlu diperhatikan hal-hal berikut :
1. Karaktristik Siswa
2. Kondisi dan situasi kelas
3. Sarana dan Prasarana
4. Media
5. Materi pelajaran
6. Alokasi waktu.
7. Tujuan Pembelajaran
8. Metode
9. Evaluasi
Berikut ini contoh penerapan model pembelajaran yang disesuaikan dengan materi pelajaran


Model Numbered Head Together
Dikembangkan oleh : Spencer Kagan
Mata pelajaran               : Sosiologi
Materi                            : Perilaku Menyimpang
Kelas/Semester              : X / II
SK                               : Menerapkan nilai dan norma dalam proses pembentukan kepribadian
KD                               : Mendiskripkan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial.
Indikator                       : Hubungan antara perilaku menyimpang dengan sosialisasi tidak sempurna
Tujuan Pembelajaran    : Siswa mampu menjelaskan hubungan perilaku menyimpang dengan sosialisasi     yang tidak sempurna
Alokasi waktu               : 2 x 45 menit (1 kali pertemuan)

Skenario Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Membuka pelajaran
b. Melakukan apersepsi (materi sebelumnya)
c. Memotivasi peserta didik
2. Kegiatan Inti :
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai. 

Eksplorasi : Guru menyuruh siswa untuk membentuk kelompok sebanyak 4-5 orang. Setiap siswa diberi nomor oleh guru. Guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok berupa kasus yang harus diselesaikan. Kasus tersebut yaitu : adanya keluarga yang broken home, kemudian anaknya menjadi pecandu narkoba. Siswa  disuruh mencoba menjelaskan hubungan antara perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna dari kasus tersebut dan mencari solusi permasalahan.
Elaborasi : Siswa berdiskusi di dalam kelompok untuk memcahkan masalah tersebut. Kemudian setelah selesai diskusi, guru memanggil no tertentu dan siswa yang sesuai dengan nomor tersebut harus menyajikan hasil diskusi dan menjelaskan pemecahan masalah dari kasus tersebut. Siswa lain menanggapi.

Konfirmasi : Dari hasil diskusi dan tanggapan siswa, guru menyimpulkan dan kemudian menjelaskan materi hubungan antara perilaku menyimpang dengan sosialisasi yang tidak sempurna. Guru memberi nilai bagi siswa yang menjawab dan memberi tanggapan.

3. Kegiatan penutup
a. Guru bersama murid bersama-sama menyimpulkan materi pembelajaran
b. Melakukan refleksi untuk menemukan kelemahan pembelajaran
c. Melakukan tindak lanjut seperti tugas dan pengayaan

Tuesday, June 7, 2011

Antara Materialisme & Profesionalisme

Guru. Siapakah guru itu? kalau kita berfikir sejenak maka guru itu adalah seseorang yang sangat berharga, mulia dan sangat berjasa dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak? dengan adanya guru kita mengenal dunia ini, kita memiliki ilmu  dan pengetahuan yang lebih baik. Hal tersebut dikarenakan tugas guru adalah mendidik setiap insan di dunia ini untuk memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang lebih baik di dalam kehidupannya.

Guru menjadi sosok penting no. 2 setelah orang tua kita karena berperan dalam mendidik demi terbentuknya manusia yang kompeten di dunia ini. Tugas guru bukan hanya sekedar mengajarkan sebuah materi untuk dikuasai oleh  siswa -siswinya, namun yang lebih penting tugas guru adalah mendidik siswa dengan sepenuh hati agar siswanya memiliki sikap yang baik dalam kehidupannya. Guru memiliki tugas kompleks untuk mengajarkan tiga ranah yaitu dari ranah kognitif, afektif dan psikomotor. 

Dulu pernah ada semboyan "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa", namun dengan seiringnya waktu semboyan itu sudah pudar karena pada dasarnya guru memiliki jasa yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Terhapusnya semboyan tersebut juga berkaitan dengan reward  lebih besar yang akan diterima guru pada saat ini. Ya, reward yang layak untuk kehidupan seorang guru dan itu hanya akan diterima oleh guru-guru yang profesional saja. Guru profesional adalah seorang guru dengan kemampuan yang lebih dalam mendidik siswa-siswinya. Kemampuan tersebut berkaitan dengan penguasaan metode, strategi, dan model pembelajaran. Guru yang profesional juga hendaknya mampu mengajar sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru tersebut. 

Guru profesional pada dasarnya ditujukan untuk mencapai tujuan agar meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan di negara tercinta kita ini. Dengan adanya guru yang kompeten di bidangnya dan profesional dalam melaksanakan tugas mengajarnya, maka secara logika SDM (Sumber Daya Manusia) yang dihasilkan akan lebih baik. Untuk menyiapkan guru yang profesional pada saat sekarang ini sudah ada program profesionalisme guru atau sertifikasi guru. Dengan adanya program tersebut diharapkan akan menghasilkan guru-guru yang profesional di bidangnya dan tentunya akan mendapatkan gaji (reward) yang lebih baik lagi bagi kesejahteraan guru.

Bertitik tolak dari penjelasan di atas, ternyata ada fenomena yang miris yang muncul di dalam dunia pendidikan saat ini. Program profesionalisme guru sudah banyak dijadikan kedok bagi terlaksananya materialisme pendidikan. Banyak guru-guru yang mengikuti program profesionalime guru hanya dengan tujuan mendapatkan gaji dan reward lebih sedangkan peningkatan metode, strategi, dan model pembelajaran telah diabaikan. Mereka hanya tertarik terhadap materi dan mengabaikan profesionalisme itu sendiri dalam proses pembelajaran. Apa yang terjadi pada saat sekarang ini jelas tampak ketika seorang guru telah lulus sertifikasi maka yang dilakukan pertama kali saat sudah menerima gaji adalah membeli hal-hal yang tidak berkaitan dengan pendidikan. Mereka cenderung akan meningkatkan kekayaan pribadi seperti membeli mobil dan hal lain yang mencerminkan materialisme seorang guru itu sendiri. Pada dasarnya peningkatan gaji bagi guru yang telah berpredikat sertifikasi adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan seperti untuk biaya pembelian media pembelajaran yang bisa meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri.

Hal lainnya adalah ketika teori yang didapatkan selama pelaksanaan program sertifikasi guru juga terkadang terlupakan begitu saja. Ketika guru sudah mulai mengajar di kelas, maka teori tinggal teori yang telah disimpan jauh di balik memori guru. Yang terjadi dalam kenyataanya adalah mutu pendidikan tidak meningkat, dan materialisme pendidikan semakin merajalela. Terkadang ada sebuah komentar "bagaimana guru bisa mengajar dengan baik jika hidupnya tidak sejahtera". Namun ketika sekarang ini gaji guru sudah ditingkatkan khususnya untuk guru yang profesional, maka hendaknya setelah mendapatkan materi yang baik maka sikap profesionalisme dalam pelaksanaan pembelajaran harus ditingkatkan.

Ini adalah sebuah kritik bagi dunia pendidikan kita, yang perlu kita ingat adalah jadilah guru yang sebenar-benarnya. Guru yang bisa memberikan panutan yang baik bagi peserta didik. Guru yang tetap berada dalam kemuliaannya untuk benar-benar mendidik insan dengan hati. Berbagai metode, strategi dan model pembelajaran hendaknya dijalankan dengan baik dan tidak hanya terobsesi dengan materi semata. Sebenarnya bukan hanya guru, namun semua bidang baik guru, dokter, polisi dan sebagainya. Hendaknya  semuanya mampu melaksanakan tugasnya sebenar-benarnya dengan profesional sesuai bidangnya. 

Tidak ada salahnya jika memang guru ingin meningkatkan taraf ekonominya dengan gaji guru profesional, namun yang perlu ditekankan disini dan yang tidak boleh dilupakan disini adalah sikap PROFESIONALISME guru itu sendiri dalam mengajar. Hendaknya guru benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik, dengan profesional, dengan kompeten demi meningkatkan mutu pendidikan dan SDM di negara tercinta ini. Jadilah GURU SEJATI..^^...

Tuesday, May 10, 2011

Anak Putus Sekolah Pada Keluarga Mampu

ANAK PUTUS SEKOLAH PADA KELUARGA MAMPU  
(Studi Kasus : Pada Keluarga Pemilik dan Pengelola Kebun Sawit di Jorong Harapan Mulya SP IV Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya)
A.             Latar Belakang Masalah                                                                                                           
Mendapatkan pendidikan pada institusi pendidikan formal (pendidikan di sekolah) adalah sesuatu yang wajib dilakukan di Indonesia. Siapapun orangnya hendaknya bersekolah minimal selama 9 tahun lamanya. Pendidikan memiliki arti penting bagi terbentuknya SDM (Sumber Daya Manusia) yang unggul. Dengan adanya sumber daya manusia yang unggul maka akan menentukan bagi tercapainya pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa. Manfaat dan fungsi belajar di sekolah maupun perguruan tinggi antara lain : 1) Melatih kemampuan akademis anak, 2) Menggembleng dan memperkuat mental, fisik dan disiplin, 3) Memeperkenalkan tanggung jawab, 4) Membangun Jiwa sosial dan jaringan pertemanan, 5) Sebagai identitas diri, dan 6) Sarana Mengembangkan diri dan berkretifitas (http://www.anneahira.com).
Fenomena putus sekolah merupakan masalah pendidikan di Indonesia yang belum terselesaikan sampai saat ini. Menurut data di sebuah situs internet (http://www.menegpp.go.id) Angka putus sekolah seluruh jenjang pendidikan di Indonesia empat tahun terakhir masih di atas satu juta siswa per tahun. Dari jumlah itu, sebagian besar (80 persen) adalah mereka yang masih duduk di jenjang pendidikan dasar (SD-SMP).
Daerah Dharmasraya merupakan salah satu kabupaten baru dari 3 kabupaten  hasil dari pemekeran kabupaten Sawahlunto. Kabupaten Dharmasraya berkembang sebagai salah satu penghasil kelapa sawit dan karet. Kabupaten ini masih baru dan masih dalam tahap mengembangkan diri dengan membuka peluang investasi seluas-luasnya. Perekonomian di daerah tersebut juga berkembang dengan pesat, dengan adanya hasil dari perkebunan sawit dan karet di daerah tersebut.
Di tengah-tengah perkembangan ekonomi yang cukup pesat di daerah tersebut, ternyata ada satu masalah yang belum ditangani secara serius yaitu masalah putus sekolah. Menurut observasi sementara peneliti menemukan ada 25 anak putus sekolah dari salah satu jorong yaitu di Jorong Harapan Mulya SP IV Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya. Di daerah tersebut dominan penghasilan keluarga berasal dari hasil perkebunan kelapa sawit. Penduduk di daerah tersebut kebanyakan sudah memiliki kebun kelapa sawit sendiri kecuali masyarakat pendatang. Dengan adanya ekonomi yang baik idealnya pendidikan anak-anak mereka juga baik, namun hal tersebut sangat bertolak belakang dengan harapan. Di daerah tersebut justru banyak anak-anak yang mengalami putus sekolah yang kebanyakan berasal dari keluarga mampu.
Putus sekolah pada keluarga mampu merupakan sesuatu yang menarik untuk diteliti. Salah satu penelitian yang relevan dengan masalah ini yaitu penelitian oleh Ranti Asri Lestari (2004/48657) dengan judul “Penyebab Anak Putus Sekolah Pada Keluarga Mampu, Studi Kasus : di Kelurahan Sungai Durian Kecamatan Payakumbuh Utara Kota Payakumbuh. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa penyebab anak putus sekolah di kelurahan Sungai Durian meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi : motivasi belajar yang kurang, tertarik mencari uang, perilaku anak nakal di sekolah dan di luar sekolah, dan kondisi psikologis remaja putus sekolah yang tidak stabil. Sedangkan faktor eksternal meliputi : pengaruh teman sebaya, kurangnya dorongan dari orang tua, peran wali murid dan guru dalam menyelesaikan permasalahan anak di sekolah dan keadaan keluarga.
Penelitian lain yang berkaitan dengan putus sekolah adalah penelitian oleh Nani Andriza (2003/42987) dengan judul “Nilai Anak Bagi Keluarga Nelayan (Studi Kasus : Anak Putus Sekolah Pada Keluarga Nelayan di Kelurahan Bungus Selatan Kecamatan Bungus Teluk Kabung). Nani meneukan ada 44 anak nelayan yang putus sekolah dari 81 orang anak nelayan. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa anak keluarga nelayan  yang  putus sekolah memiliki nilai ekonomis dan non ekonomis bagi keluarga mereka. Nilai ekonomis terungkap dari peran serta anak dalam memenuhi kebutuhan perekonomian keluarga. Mereka ikut bekerja sebagai nelayan lalu uangnya diberikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan nilai non ekonomis terdiri dari nilai sosial (keikutsertaan membantu orang tua) dan nilai psikologi (Rasa bangga orang tua jika anaknya membantu keluarganya).
Berdasarkan kedua penelitian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai anak putus sekolah khususnya pada keluarga mampu. Oleh karena itu peneliti telah melakukan wawancara sementara dengan beberapa informan yang merupakan warga di Jorong Harapan Mulya SP 1V Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya. Mufasinah (37 th) mengatakan bahwa di daerah tersebut memang banyak anak putus sekolah dan berasal dari keluarga yang cukup mampu yaitu kebanyakan dari keluarga pemilik dan pengelola kebun sawit. Informan selanjutnya adalah Gino (18 th) yang merupakan salah satu anak putus sekolah SMP menuturkan bahwa dia malas untuk sekolah karena membuang waktu saja dan menurutnya lebih baik mencari uang dengan bekerja di sawit daripada sekolah hanya menghabiskan uang. Arif (18 th) juga mengatakan bahwa dia pernah sekolah SMA sampai kelas 2 tapi tidak dilanjutkan karena menurutnya sekolah itu membosankan sehingga sekarang memilih untuk mengelola sawit yang dimiliki oleh keluarganya.
Berdasarkan observasi dan wawancara secara sementara tersebut, peneliti juga memperoleh data anak yang putus sekolah yang berjumlah 25 orang sebagai berikut :
No.
Nama
Usia
Keterangan
1.
Sugeng
15 tahun
Putus sekolah SD
2.
Naning
10 tahun
Putus sekolah SD
3.
Septin
15 tahun
Putus sekolah SD
4.
Riyan
12 tahun
Putus sekolah SD
5.
Toni
16 tahun
Putus sekolah SD
6.
Ani
13 tahun
Putus sekolah SD
7.
Gina
16 tahun
Putus sekolah SD
8.
Lilis
16 tahun
Putus sekolah SD
9.
Daryono
16 tahun
Putus sekolah SD
10.
Yulianto
14 tahun
Putus sekolah SMP
11.
Gino
18 tahun
Putus sekolah SMP
12.
Dayat
17 tahun
Putus sekolah SMP
13.
Radek
13 tahun
Putus sekolah SMP
14.
Andi
13 tahun
Putus sekolah SMP
15
Yuni
13 tahun
Putus sekolah SMP
16.
Edi
16 tahun
Putus sekolah SMP
17
Yuliati
15 tahun
Putus sekolah SMP
18
Wulan
18 tahun
Putus sekolah SMP
19.
Kemi
16 tahun
Putus sekolah SMP
20.
Rohim
16 tahun
Putus sekolah SMP
21.
Ari
15 tahun
Putus sekolah SMP
22.
Arif
18 tahun
Putus sekolah SMA
23.
Sugeng
17 tahun
Putus sekolah SMA
24.
Catur
18 tahun
Putus sekolah SMA
25.
Si Win
18 tahun
Putus sekolah SMA
26.
Daryono
16 tahun
Putus sekolah SMA
 Menurut pengamatan, peneliti mengetahui bahwa sebagian besar penduduk di Jorong Harapan Mulya SP 1V Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya berasal keluarga yang mampu. Sebagian besar latar belakang keluarga anak-anak yang putus sekolah tersebut berasal dari keluarga pemilik dan pengelola kebun sawit dengan gaji yang lumayan besar. Saji Riyanto (27th) bekerja sebagai tukang muat sawit mengungkapkan bahwa gaji keluarga yang memiliki kebun kelapa sawit berkisar 3 juta sampai 40 juta per tahun dengan luas kebun sawit berkisar 2 hektar sampai 12 hektar. Sedangkan bagi keluarga yang bekerja sebagai pengelola kebun sawit gajinya berkisar 1,5 juta sampai 2,5 juta per bulan.
Dengan adanya hal tersebut, bisa dikatakan bahwa latar belakang keluarga di daerah Jorong Harapan Mulya SP 1V Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya rata-rata berasal dari keluarga mampu. Pada keluarga mampu, seharusnya anak-anaknya mampu mendapatkan pendidikan yang baik sampai jenjang yang lebih tinggi. Pada kenyataanya, banyak anak-anak yang putus sekolah dari daerah tersebut. Keadaan tersebut menjadikan sebuah ketimpangan yang nyata. Putus sekolah yang dialami oleh anak-anak di daerah tersebut pada dasarnya bukanlah berasal dari faktor ekonomi namun berasal dari faktor-faktor yang lainnya. Faktor-faktor lainnya tersebut yang perlu untuk diteliti lebih lanjut.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai fenomena putus sekolah di daerah tersebut. Dengan adanya hal tersebut maka judul penelitian ini adalah : “Anak Putus Sekolah Pada Keluarga Mampu di Jorong Harapan Mulya SP 1V Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya, Studi kasus : Pada Keluarga Pemilik dan Pengelola Kebun Sawit “.
B.     Permasalahan
Permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini yaitu adanya anak-anak yang putus sekolah pada keluarga mampu di daerah Jorong Harapan Mulya SP 1V Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya. Anak-anak yang berasal dari keluarga mampu (pemilik dan pengelola kebun sawit) seharusnya bisa mendapatkan pendidikan yang baik sampai jenjang yang lebih tinggi. Pada kenyataanya, banyak anak-anak yang putus sekolah yang berasal dari keluarga mampu dari daerah tersebut. Keadaan itu menjadikan sebuah ketimpangan yang nyata. Putus sekolah yang dialami oleh anak-anak di daerah tersebut pada dasarnya bukanlah berasal dari faktor ekonomi namun berasal dari faktor-faktor yang lainnya. Faktor-faktor lainnya tersebut yang perlu untuk diteliti lebih lanjut. Berdasarkan permasalahan tersebut maka pertanyaan penelitian ini adalah :
1.    Apa yang menyebakan terjadinya putus sekolah di kalangan keluarga mampu di Jorong Harapan Mulya Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya?.
2.    Bagaimanakah solusi yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Dharmasraya untuk mengatasi fenomena putus sekolah di daerah tersebut?
C.    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :
1.    Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya putus sekolah di kalangan keluarga mampu di Jorong Harapan Mulya Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya.
2.    Untuk mengetahui solusi yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Dharmasraya untuk mengatasi fenomena putus sekolah di Jorong Harapan Mulya Kecamatan Tiumang Kabupaten Dharmasraya.
D.    Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.    Dari segi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pendidikan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan berguna untuk dijadikan bahan acuan bagi peneliti lain yang berminat dalam bidang ini khususnya yang berhubungan dengan studi putus sekolah pada keluarga mampu.
2.    Dari segi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi kepada semua pihak khususnya bagi instansi dan pemerhati masalah putus sekolah pada keluarga mampu agar mampu mengatasi masalah tersebut dengan baik.
next page
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Yutimah Damazier |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net