Tuesday, May 10, 2011

PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN (Artikel 1)

PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN
(Kemiskinan dan Buruknya Tingkat Kesehatan)
YUTIMAH
Jurusan Sosiologi Antropologi FIS UNP
02464/2008
ABSTRAK
Pembangunan di bidang kesehatan di Indonesia cukup meningkat secara perencanaan. Namun secara pelaksanaan ternyata masih banyak masalah di bidang kesehatan. Pembangunan di bidang kesehatan tidak terlepas dari masalah kemiskinan yang pada akhirnya berdampak terhadap masalah kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan kemiskinan adalah masalah gizi buruk. Gizi buruk banyak dialami oleh masyarakat miskin, dan pada saat sekarang ini jumlah penderita gizi buruk di Indonesia masih cukup tinggi. Pembangunan di bidang kesehatan hendaknya tidak hanya pada hal fisik saja namun dari segi pelayanan dan focus peningkatan kesehatan masyarakat terutama kesehatan pada keluarga miskin.
Gizi Buruk: Potret Kemiskinan Dan Buruknya Tingkat Kesehatan Di Indonesia
Kesehatan adalah unsur vital dan merupakan elemen konstitutif dari kehidupan seseorang. Kesehatan sebagai hak asasi telah menjadi kebutuhan mendasar dan tentunya menjadi kewajiban negara dalam upaya pemenuhannya. Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah. Kemiskinan yang mencolok masih banyak ditemukan di Negara-negara berkembang khususnya di Indonesia. Orang-orang miskin sering menderita kekurangan gizi dan tingkat kesehatan yang buruk (Todaro, Michael, 2006: 231) .
Meskipun pemerintah Indonesia seringkali mengklaim bahwa tingkat kemiskinan dan tingkat kesehatan sudah meningkat dari tahun ke tahun, namun di lapangan masih banyak masalah yang berkaitan dengan kemiskinan dan buruknya tingkat kesehatan di Indonesia. Berdasarkan hasil riset kesehatan (riskesdes), terjadi penurunan angka kurang gizi pada balita sebesar 17, 9 persen atau turun 1,5 persen dari 18, 4 persen pada tahun 2007. Sedangkan tahun 2010 terkahir data mengenai gizi buruk kembali meningkat 30 persen. Peningkatan tersebut karena terlihat masih banyaknya persoalan gizi buruk yang ditambah dengan persolalan kelaparan tersembunyi (hiden hunger). Penduduk Indonesia pada dasarnya masih menghadapi ancaman masalah gizi mikro. Selain tingginya angka gizi buruk dan gizi kurang, masalah mikro nutrient masih kerap dijumpai di Indonesia. Ahli gizi Yulia Rimawati dalam , SP menegaskan bahwa rata-rata balita yang mengalami kelaparan tersembunyi mencapai angka 50 persen.
Masalah gizi buruk yang banyak dialami oleh keluarga miskin cukup ironis di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan masih lambatnya pelayanan kesehatan dalam menangani masalah gizi buruk tersebut. Bulan Maret terakhir seorang bayi penderita gizi buruk di Bogor meninggal dunia setelah dirawat di sebuah RSUD. Kematian seorang bayi penderita gizi buruk tersebut dikarenakan lambatnya penanganan kasus gizi buruk tersebut. Kenyataan lain yang banyak diberitakan di media yaitu 9.378 balita penderita gizi buruk di Banten butuh pertolongan dan perhatian serius dari pemerintah, kemudian ada 200 Balita alami gizi buruk di depok, 3 tahun seorang anak gizi buruk di Ternate yang tidak terurus, 113 balita terserang gizi buruk di Medan dan banyaknya jumlah gizi buruk di Lombok yang diakibatkan dana kesehatan yang masuk ke daerah tersebut hanya digunakan untuk kegiatan fisik.
Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu : (1) Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan. (2) Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik. Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu: (1) Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat; (2) Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan asuh anak; (3) Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu: (1) Keluarga miskin; (2) Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak; (3) Faktor penyakit pada anak, seperti: penyakit jantung bawaan, TB paru, HIV/AIDS, infeksi saluran pernapasan dan diare .
Dari faktor-faktor penyebab gizi buruk di atas, maka terlihat jelas bahwa salah satu penyebabnya adalah dari faktor kemiskinan. Kemiskinan yang masih banyak merajalela di Indonesia pada akhirnya berdampak kepada buruknya tingkat kesehatan salah satunya yaitu masalah gizi buruk tersebut. Untuk menangani masalah tersebut, pada dasarnya diperlukan adanya kerjasama antara berbagai bidang di negeri ini yang bukan hanya ditangani oleh petugas kesehatan saja.
Pembangunan di bidang kesehatan hendaknya tidak hanya berfokus terhadap pembangunan fisik semata. Anggaran kesehatan yang telah diberikan oleh pemerintah hendaknya mampu digunakan seoptimal mungkin bagi peningkatan kesehatan di Indonesia terutama bagi keluarga yang kurang mampu atau miskin. Berbagai program memang telah banyak dijalankan dibidang kesehatan dalam membantu meningkatkan kesehatan masyarakat miskin seperti ASKES, JAMKESMAS, maupun pelayanan periksa gratis lainnya. Namun program tersebut hendaknya diikuti dengan pelayanan yang baik dan maksimal juga dari petugas kesehatan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya penderita gizi buruk yang meninggal yang justru dikarenakan oleh lambatnya dan kurang maksimalnya pelayanan dari pihak kesehatan. Pihak kesehatan juga perlu memberikan sosialisasi yang cukup kepada masyarakat tentang program kesehatan yang bisa meningkatkan gizi masyarakat.
Selain pentingnya peranan pelayanan kesehatan, pada dasarnya kesuksesan dalam pembangunan kesehatan juga diperlukan adanya kerjasama dengan berbagai bidang di Indonesia. Misalnya saja menteri kesehatan juga perlu bekerja sama dengan menteri pertanian dalam peningkatan gizi, menteri pertanian tersebut bisa membantu dalam mengurusi masalah penyediaan makanan. Bidang kesehatan juga perlu bekerja sama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi masalah kesehatan di Indonesia. Pada intinya dengan adanya kerjasama tersebut program gizi jangan hanya menjadi indikator dalam pembangunan kesehatan saja, tetapi harus menjadi indikator dalam pembangunan nasional .
Solusi terakhir adalah berkaitan dengan peningkatan taraf ekonomi masyarakat Indonesia. Kemiskinan memang jadi akar masalah persoalan gizi. Oleh karena itu masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi juga merupakan sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan juga menyangkut aspek pengetahuan serta perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat.
Kesimpulan
Pada dasarnya kemiskinan bisa berdampak terhadap buruknya tingkat kesehatan di Indonesia. Buruknya tingkat kesehatan di Indonesia terlihat dari masih banyaknya masalah gizi buruk yang dialami oleh sebagian besar masyarakat miskin. Pembangunan di bidang kesehatan hendaknya tidak hanya terfokus pada pembangunan fisik saja, peranan pelayanan kesehatan dan sosialisasi program kesehatan secara berkesinambungan juga diperlukan dalam hal ini. Solusi lain untuk mengatasi masalah tersebut, pada dasarnya bukan hanya dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja namun juga perlu kerjasama dari berbagai bidang yaitu dari pemerintah pusat yang bekerja sama dengan pemerintah daerah, kerjasama dengan menteri pertanian yang mengurusi mengenai masalah ketersediaan makanan. Program gizi jangan hanya menjadi indikator dalam pembangunan kesehatan saja, tetapi harus menjadi indikator dalam pembangunan nasional. Solusi terakhir adalah berkaitan dengan peningkatan taraf ekonomi masyarakat Indonesia yang diiringi dengan peningkatan pengetahuan serta perilaku pola hidup sehat masyarakat.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

next page
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Yutimah Damazier |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net